Artikel: Chevron Corp, perusahaan minyak terbesar kedua di AS dari segi value dibawah Exxon melaporkan di hari Jumat kejatuhan laba sebesar 90 persen, meleset dibawah perkiraan analis akibat kejatuhan harga minyak ke level terendahnya sejsk 2002 pada Q2 apalagi perusahaan tersebut haru membayar pinalti sebesar $2 milyar akibat menghentikan project ditengah kejatuhan harga minyak mentah dunia. CEO John Watson menyatakan hasil earnings sangat lemah, sehingga kebijakan pemangkasan biaya mungkin akan ditempuh dengan renegosiasi kontrak pasokan minyak. Sebelumnya John Watson telah mengurangi 2 persen staff perusahaan. Chevron membukukan pendapatan bersih sebesar $571 juta, atau 30 sen per lembar saham, jauh lebih lemah dibanding tahun sebelumnya $5.67 milyar, atau $2.98 per lembar saham. Chevron bahkan seharusnya mengalami kerugian jika unit bisnis hilir nya yang menghasilkan bahan bakar bensin, pelumas dan produk jadi lainnya tidak mencetak kenaikan profit 4 kali lipat ke level $2.96 milyar. Unit bisnis penyulingan cenderung lebih profitable ketika harga minyak ambruk, yang merupakan salah satu keuntungan Chevron dan perusahaan miyak besar lainnya sebagai alat lindung nilai pada operasionalnya, seperti produksi minyak mentah yang dibebani oleh kondisi pelemahan harga. Sementara unit bisnis hulu Chevron, yang memproduksi minyak dan gas, merugi $2.22 milyar, setelah sempat meraih laba lebih dari $5 milyar pada kwartal yang sama tahun sebelumnya.