Artikel: Chief Executive Officer sekaligus pendiri Starbucks, Howard Schultz, disebut-sebut berniat mencalonkan diri sebagai presiden Amerika Serikat pada pemilu 2016 mendatang. Rumor itu langsung ditepis oleh yang bersangkutan sembari menyebut dirinya hanya fokus untuk berbisnis. Isu pencalonan diri Howard Schultz mencuat setelah kolumnis Maureen Dowd menulis tentang rencana 'nyapres' sang pemilik Starbucks di kolom media New York Times beberapa hari lalu. Publik cukup terkejut dengan pemberitaan itu, dan ada pula yang antusias menyambutnya. Namun CEO Starbucks langsung mengungkapkan bantahannya dengan menyebut dirinya sama sekali tidak punya tekad atau niatan untuk maju sebagai calon kepala negara. Warga Amerika sendiri tidak heran kalau Schultz memang berniat maju sebagai presiden karena pebisnis satu ini memang kerap melakukan aksi sosial dan membagikan donasi ke beberapa yayasan. Schultz suka memberi kesan kalau ia adalah seorang sosok yang liberal dan dekat dengan masyarakat. Sayangnya asumsi itu langsung gugur setelah dirinya secara tegas menyatakan hanya fokus mengurus Starbucks. "Saya belum selesai membangun perusahaan," kata Schultz dalam pernyataan resminya. Ia juga mengutarakan opini tentang pemilihan presiden yang digelar tahun depan. "Siapapun yang memenangkannya, bukan berarti partai yang diwakili akan menguasai senat," demikian ujar Schultz. Ia mengklaim penguasa pemerintahan dan legislatif harus didominasi oleh dua partai yang berbeda supaya ada keseimbangan dalam dunia politik di Amerika. "Mayoritas warga pastinya tidak mau ada satu partai yang berkuasa," terangnya.